Mengintip Kurikulum Pesantren Irhamna Bil Quran

Mengintip Kurikulum Pesantren Irhamna Bil Quran

Hendra (35) terpana memandang baliho di pintu masuk Pondok Pesantren Tahfiz Irhamna Bil Quran Kampung Pari Desa Pari Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang. Lelaki tiga anak asal Lemah Neundeut Cicadas Kota Bandung bukan terpana oleh ukuran baliho yang jumbo. Namun ia tak percaya dengan tulisan di kain besar berisi ucapan selamat atas wisuda pertama santri pesantren berlokasi di kaki Gunung Pulo Sari.

Beberapa nama santri yang tertera di baliho dicermatinya satu persatu. Pertama, Hafiz Haris Syukur asal Majalengka Jawa Barat, berhasil menamatkan hafalan 30 juz dalam 6 bulan, berhasil meraih beasiswa ke Sulaimaniyah, Turki. Kedua, Zen Arif Februase asal Rangkasbitung Banten, berhasil menamatkan hafalan Alquran 30 juz dalam 5 bulan, meraih beasiswa di Fakultas Kedokteran Malahayati Bandar Lampung.

Ketiga, Mutia Fatmawati, asal Cilanggar Pandeglang, berhasil menamatkan hafalan dalam 5,5 bulan, meraih IPK tertinggi STKIP Syeh Mansyur Pandeglang.Keempat, Amar Ma’rif asal Tangerang, berhasil  menamatkan hafalan 30 juz dalam 6 bulan pada usia 12 tahun. Hendra membuang nafas berat. Percaya tak percaya, dibacanya kembali isi ucapan selamat tersebut. Pikirannya terus bertanya-tanya, bagaimana mungkin Alquran 30 juz bisa dihafal dalam waktu sesingkat itu.

Muncul praduga, jangan-jangan pesantren ini menggunakan sihir. Namun ia buru-buru membuang pikiran tersebut. Ia ingin tabayun langsung kepada para mentor santri bidang tahfiz di pesantren ini.
Ia baru saja akan melangkah memasuki pintu gerbang, seorang lelaki bertubuh sedang dan berpeci hitam menghampirinya. “Assalamu’alaikum. Ada yang bisa kami bantu, Pak?” suara ramah mengagetkan Hendra. “Oh, wa’alaikum salam. Saya dari Bandung, Pak Kiai ada, kang?” tanya Hendra.
“Silakan tunggu di saung, Pak,” ujar lelaki tersebut sambil menunjuk ke bangunan sederhana terbuat dari bambu.

Tak berselang lama, seorang lelaki kulit sawo matang, berpeci hitam jalan terburu-buru menuju saung. “Assalamu’alaikum. Hampura sudah menunggu lama,” lelaki berusia 40 tahunan itu menyapa ramah Hendra. Ketika bersalaman, tubuhnya merunduk hampir separo badan tamunya. Herman tak yakin, lelaki ini adalah kiai muda yang beberapa bulan terakhir namanya menjadi buah bibir. Awalnya ia membayangkan, pengasuh pesantren tahfiz ini lelaki berjubah, bersurban, dan menjaga intonasi suara ketika bicara.

“Saya Taftajani,” kata lelaki tersebut. Sontak Hendra kaget. Nama itu sering didengarnya. Wajahnya berubah pucat, lelaki berpenampilan sederhana dan sangat ramah tersebut memang Taftajani, pengasuh pesantren yang santrinya berhasil hafal 30 juz dalam waktu singkat. “Maaf kiai, kirain….” Hendra tak melanjutkan kalimatnya. “Ga papa, silakan duduk. Maaf tempatnya seperti ini,” katanya ramah.



3 Perbedaan Hadits Qudsi dengan Al-Qur’an

Hadits menurut bahasa bermakna baru. Hadits juga punya makna “sesuatu yang dibicarakan dan dinukil”, juga “sesuatu yang sedikit dan banyak”. Bentuk jamaknya adalah ahadits.

Continue Reading...

Inilah Khasiat Surat al-Fatihah

Semua surat dalam al-Qur’an adalah istimewa. Penyebutan khasiat dalam judul tulisan ini bukan berarti menafikan khasiat surat yang lain. Melainkan penegasan bahwa ada surat-surat tertentu yang Allah Ta’ala pilih dan memiliki khasiat khusus yang tidak dimilki oleh surat yang lainnya.

Continue Reading...

17 Ilmu Yang Harus Dikuasai Dalam Memahami Al-Qur`an

Pada jaman akhir ini Perselisihan karena perbedaan pemahaman yang terjadi  boleh jadi dikarenakan segelintir kaum muslim terhasut atau korban ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi sehingga cara memahami Al Qur’an dan Hadits mengikuti cara  pemahaman  yang serampangan menurut pikiran dan nafsunya mereka sendiri.

Continue Reading...